Poligami ?..yes or no
Sekarang ini lagi ribut- ribut membicarakan poligami. Dari dulu praktek poligami kerap terjadi, bahkan pada zaman nenek moyang kita. Bahkan nabi kita nabi Muhammad juga beristrikan lebih dari satu. Dan hal tersebut adem ayem saja. Namun baru- baru ini, entah siapa yang menjadi pemicunya atau apakah karena ada seorang dai kondang melakukan praktek tersebut ('Aa... aku masih tetap mendukung mu....) hal tersebut mencuat sampai- sampai pemerintahan SBY tampak dengan sigap menyikapi hal tersebut (bahkan lebih sigap dari krisis- krisis lain di negri ini spt masalah BBM dan lumpur..weks).
Di mata agama islam poligami jelas halal alias diperbolehkan. Memang, secara kenyataannya dalam masyarakat kita yang berbudaya monogami hal tersebut menjadi gunjingan. Dan wajar- wajar saja pemerintah merespons isu tersebut dengan melibatkan banyak pihak, seperti tokoh- tokoh agama, ahli fiqih, tokoh sosial, legislatif dan eksekutif. Karena ini terkait dengan masyarakat banyak. Dan tentang akan direvisinya UU Perkawinan yang secara garis besar akan memperketat dan larangan Poligami yang tentunya mengandung Pro dan Kontra.
Menurut saya secara pribadi, pemerintah tidak berhak melarang- larang anggota masyarakat berpoligami (walaupun saya tidak suka dengan praktek poligami) dilihat dari kacamata Islam, agama saja tidak melarangnya. Poligami akan haram jika suami tidak berlaku adil baik lahiriah maupun bathin, baik jasmani maupun rohani, baik fisik maupun materi, dan hal- hal lainnya menyangkut hubungan rumah tangga, terkecuali bila istri yang di perlakukan tidak adil tersebut ikhlas dan ridho (hati perempuan mana yang redho :<)
Apalagi pemerintah harus bersikap lebih memperhatikan dampaknya kemudian hari. Jelas saja jika UU tersebut disahkan, maka akan lebih menjamur tradisi selingkuh (barangkali pemerintah lebih suka mendengar berita- berita perselingkuhan, salut buat bung Yahya Zaini.. :p), dan meluasnya prostitusi karena ada larangan poligami secara resmi. Dalam hal ini, pemerintah seperti melegalkan bisnis prostitusi dan membudayakan selingkuh. Kok secepat itu reaksi pemerintah dalam masalah ini ketimbang mengatasi masalah prostitusi.
Pemerintah seharusnya lebih tanggap mengatasi masalah- masalah sosial lain yang lebih penting daripada mengatur urusan orang yang mungkin mempunyai masalah dengan nafsu dan syahwat (he...he...he.. itu urusan pribadi orang ...euy..). Kita lihat saja betapa tegarnya teteh Ninih (istri Aa Gym, apalagi dahsyatnya kecaman dari masyarakat dan media) dan bandingkan betapa terpukulnya istri Yahya Z dengan kasus permesuman yang dilakukan suaminya dengan seorang artis dangdut.
Dari situ dapat kita ambil pelajaran dan hikmah. Seorang istri yang rela dan tegar dipoligami dengan seorang istri yang hancur lebur hatinya, rumah tangganya akibat perselingkuhan yang tidak sah. Bukannya saya membela- bela poligami, cuma saja kita harus lihat posisinya. Kalau seorang istri rela dan iklas, so why not. Namun harus diingat tentang peran suami yang sebagaimana mestinya dan tidak membeda- bedakan antara istri tua dan muda. Namun bila dilihat dari sisi wanita, perempuan mana yang rela dan tidak hancur hatinya kalau didua kan. Nah kalau kasusnya begini sebaiknya anda pikirkan dulu masak- masak.
Poligami.?..Yes or No?
Labels: Sosial


1 Comments:
Banyak istri banyak rezeki ;))
Post a Comment
<< Home